Menyoal Kebablasan Berpendapat: Malfungsi Media Sosial Sebagai Panggung Produsage Konten Negatif

  • Ratih Frayunita Sari Badan Narkotika Nasional RI Jakarta
Keywords: freedom of speech, new media, social media, ecology media theory, produsage, negative content, media literacy, regulation, government

Abstract

The existence of producer productivity practices becomes the dominant thing today, where people freely consume and distribute messages and tendencies that lead to "overload" of opinion. The purpose of this paper is argue that the development of social media in the digital age is not yet fully accompanied by media literacy and sharoening of regulation freedom of speech offered in public space shifts into negative content space. The research method using qualitative with literature review approach. The research result shows five important point, there are, a view of the development of mobile internet and social media that dominate as a trigger of freedom of opinion in Indonesia, the ecology media theory capture the dynamics of freedom of expression, the exaggeration of opinion as a producer of content malfunctions, the polemic varies models of freedom of expression from time to time vs Information and ElectronicTransaction Law and role of the country to contain negative content and media literacy movements.
Keywords: freedom of speech, new media, social media, ecology media theory, produsage, negatif content, media literacy, regulation, government.


ABSTRAK
Adanya praktik produktivitas produsen menjadi hal yang dominan saat ini, di mana orang bebas mengkonsumsi dan mendistribusikan pesan dan kecenderungan yang mengarah pada luapan pendapat. Tujuan dari penelitian ini adalah berpendapat bahwa perkembangan media sosial di era digital belum sepenuhnya dibarengi dengan literasi media dan penyimpangan regulasi kebebasan berbicara yang ditawarkan di ruang publik bergeser ke ruang konten negatif. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. Hasil penelitian ini menunjukan ada lima poin penting, yaitu, pandangan tentang perkembangan internet seluler dan media sosial yang mendominasi sebagai pemicu kebebasan berpendapat di Indonesia, media ekologi menangkap dinamika kebebasan berekspresi, pembesar-besaran pendapat sebagai produsen kerusakan konten, polemik bervariasi model kebebasan berekspresi, dan posisi serta peran negara untuk memuat konten negatif dan gerakan literasi media.
Kata kunci: kebebasan berpendapat, media sosial, teori ekologi media, konten negatif, literasi media, regulasi, pemerintah.

References

Asshiddiqie, J. (2006). Kemerdekaan Berserikat, Pembubaran Partai Politik. Jakarta: MK Konstitusi Press.

Baron, R. A., & Donn, B. (2005). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Baym, N. K. (2010). Personal Connection in the Digital Age. UK: Polity Press.

Bruns, A. (2008). Blogs, Wikipedia, Second Life, and Beyond : From Production to Produsage. New York: Peter Lang Publishing Inc.

Flew, T. (2002). New Media: An Introduction. New York: Oxford University Press.

Jorgensen, R. F. (2001). Internet and Freedom of Expression. Sweden: Raoul Wellenberg Institute.

Lister, M. (2003). New Media : A Critical Introduction? London: Routledge.

McLuhan, M. (2002). Understanding Media : the Extensions of Man. London: Routledge.

McQuail, D. (2010). Mass Communication Theories (6th Edition ed.). London: Sage Publication.

McQuail, D. (2011). Teori Komunikasi Massa McQuail (Edisi 6 ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

Nurlatifah, M., & Prajarto, N. (2012). Fungsi, Malfungsi, dan Disfungsi Media Baru. Dalam W. M. Adiputra, Media Baru Studi Teoritis & Telaah dari Perspektif Politik dan Sosiokultural (hal. 47-92). Yogyakarta: FISIPOL UGM.

Putra, I. G. (2008). Media, Komunikasi, dan Politik : Sebuah Kajian Kritis. Yogyakarta: Fisipol UGM.

Rahayu. (2006). Agenda Pembelajaran Literasi Media di Indonesia : Memperluas Eksistensi Audiens Kritis. Dalam N. Prajarto, Media Komunikasi : Siapa Mengorbankan Siapa (hal. 123-141). Yogyakarta : FISIPOL UGM.

Rogers, E. M. (1986). Communication Technology The New Media in Society. New York: The Free Press.

Straubhaar, J. D., & Rose, R. L. (2006). Communications Media in the Information Age Second Edition. Belmont, CA: Wadsworth.

Sztompka, P. (2011). Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media.

UNESCO. (2004). Glosarium Toolkit Kebebasan Berekspresi bagi Aktivis Informasi tentang Kebebasan Berekspresi. France: The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization .

Wahyuni, H. I. (2013). Kebijakan Media Baru di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

APJII. (2016). Survey Penetrasi & Perilaku dan Pengguna Internet di Indonesia. Jakarta: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Dipetik Oktober 1, 2017, dari https://www.apjii.or.id/survei2017

Badamchi, D. K. (2015). Justifications of freedom of speech: Towards a double-grounded non-consequentialist approach. Philosophy and Social Criticism, Vol. 41(9), 907-927.

Cabalin. (2014). Online adn Mobilized Students : The USe of Facebook and The Chilen Student Protests. Media education Research, 1134-3478.

Notanubun, P. G. (2014). Tinjauan Yuridis Terhadap Kebebasan Berbicara Dalam Ketentuan Pasal 27 Ayat 3 Uu Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE Dalam Hubungan Dengan Pasal 28 UUD 1945. Jurnal Ilmu Hukum, 111-120.

Setianto, A. W. (2009). Sistim Komunikasi dan Media Baru. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2-26.

Simpson, E. (2017). Converged conversations: A case study of journalism and digital commentary in the public sphere. Convergence The International Journal of Research into New Media Technologies, 132-147.

Tamburaka, A. (2013). Literasi Media : Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers Raja Grafindo Persada.

Faizal, A. (2017, Juni 9). Regional Kompas. Dipetik Oktober 5, 2017, dari kompas.com: http://regional.kompas.com/read/2017/06/09/16265591/buat.meme.menghina.presiden.di.facebook.seorang.pemuda.ditangkap

H.T, D. (2016, Agustus 27). Kompasiana.com. Dipetik Oktober 6, 2017, dari Kompasiana: https://www.kompasiana.com/danielht/mengapa-tidak-bisa-membedakan-menghina-dengan-mengritik_57c15de990fdfdf43e009e6d

Lumbantobing, A. (2017, Mei 11). 7 Kasus yang Mengancam Kebebasan Berpendapat. Dipetik Desember 14, 2017, dari Liputan6.com: http://global.liputan6.com/read/2947911/7-kasus-yang-mengancam-kebebasan-berpendapat

Menkominfo. (2015, April 23). Menkominfo Akui Sulit Berantas Konten Negatif di Media Sosial. Diambil kembali dari Kementerian Komunikasi dan Informatik Republik Indonesia: https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/4807/Menkominfo+Akui+Sulit+Berantas+Konten+Negatif+di+Media+Sosial/0/berita_satker

Sohuturon, M. (2017, Agustus 6). CNN Indonesia. Dipetik Oktober 6, 2017, dari CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170806195425-12-232827/sri-rahayu-penghina-jokowi-pertanyakan-keadilan-di-indonesia/

Trager, R. (1999). Freedom of Expression in The 21 Century. California: Pine Forge Press.

Trager, R., & Dickerson, D. L. (1999). Freedom of Expression in The 21 Century. California: Pine Forge Press.

Widhana, D. H. (2017, Oktober 13). Puncak Era Berpendapat di Era Jokowi. Dipetik Desember 14, 2017, dari Tirto Id: https://tirto.id/puncak-darurat-berpendapat-di-era-jokowi-cyjk#

Yanuar. (2015, Maret 31). Liputan 6.com. Diambil kembali dari news.liputan6.com: http://news.liputan6.com/read/2201796/florence-sihombing-menangis-divonis-2-bulan-

Published
2019-06-17
How to Cite
Sari, R. F. (2019). Menyoal Kebablasan Berpendapat: Malfungsi Media Sosial Sebagai Panggung Produsage Konten Negatif. Jurnal Penelitian Pers Dan Komunikasi Pembangunan, 23(1), 1-16. https://doi.org/10.46426/jp2kp.v23i1.86