Stereotipe, Prasangka dan Dinamika Antaretnik

  • Ilyas Lampe Universitas Tadulako
  • Haslinda B. Anriani Universitas Tadulako
Keywords: Prejudice, Prasangka, Stereotype, Stereotip, Identitas Etnik, Ethnics Identity, Intercultural Communication, Komunikasi, Komunikasi Antar Budaya

Abstract

Ethnic identity is a differentiator that is primordial that is often used to establish an association to a particular group, as ingroup or outgroup that in the local context the plural is called the "Kitorang" or "kamorang". Ethnic identity is a true socio-cultural construction, which can be changed, uncertain and impermanent. Ethnicity is an expression of past products, the rise of the same origin, social relations, and similarities in cultural values ​​and traits such as language and religion. However, despite ethnic identity can change it may cause birth stereotypes and prejudices even turn into violent conflict. This research is to unravel the relationship between ethnic Kaili (native) and ethnic Bugis (entrants) in the city of Palu. This study used a qualitative method with informants selected from academia (anthropologist), students and community leaders Kaili and Bugis. The results showed that the various stereotypes that appear in both ethnically both positive and negative. Meanwhile there are also prejudices that accompany the relationship and communication between the two ethnic groups, although there has been a culturals and economic interconnections since hundreds of years ago. Even since the 1990s until recent year violent conflicts ethnic background, whose roots are suspected due to economic disparities between Kaili and Bugis ethnic population, such as the conflict in the Market Masomba and Inpres Market.

Keywords: Prejudice, Stereotype, Ethnic Identity, Intercultural Communication.

 

ABSTRAK

Identitas etnik merupakan pembeda yang bersifat primordial yang seringkali digunakan untuk menetapkan asosiasi pada kelompok tertentu, sebagai ingroup atau outgroup yang dalam konteks lokal jamak disebut dengan istilah “kitorang” atau “kamorang”. Identitas etnik sejatinya merupakan konstruksi sosial budaya, yang dapat berubah, tidak pasti dan tidak kekal. Etnisitas merupakan ekspresi dari produk masa lalu, kebangkitan asal-usul yang sama, hubungan sosial, dan kesamaan dalam nilai-nilai budaya dan ciri-ciri seperti bahasa dan agama. Namun identitas etnik kendati dapat berubah ia dapat menyebabkan lahirnya stereotipe dan prasangka bahkan berubah menjadi konflik kekerasan. Penelitian ini mengurai relasi antara etnik Kaili (pribumi) dan Etnik Bugis (pendatang) di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan informan yang dipilih dari kalangan akademisi (antropolog), mahasiswa dan tokoh masyarakat Kaili dan Bugis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beragam sterotipe yang muncul pada kedua etnik baik yang positif maupun negatif. Sementara itu masih terdapat pula prasangka yang menyertai relasi dan komunikasi antar kedua etnik, kendati telah terjadi persinggungan budaya dan ekonomi sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan sejak tahun 1990 an hingga beberapa tahun terakhir terjadi konflik kekerasan berlatarbelakang etnik, yang akarnya ditengarai akibat ketimpangan ekonomi antara penduduk etnik Kaili dan Bugis, misalnya saja konflik di Pasar Masomba dan Pasar Inpres.

Kata kunci: Prasangka, Stereotipe, Identitas Etnik, Komunikasi Antarbudaya

Downloads

Download data is not yet available.

References

Amstrong, M. J. (1986). Ethnicity and Ethnic Relations in Malaysia. NIU: Center for Southeast Asian Studies.

Aragon, L.V. (2000). The Colonial Introduction of Religion and Language as Ethnicity in Sulawesi, Indonesia. Honolulu: University of Hawai Press.

Barth, F. (1988). Kelompok Etnik dan Batasannya. Terjemahan Nining I Susilo. Jakarta: UIP.

Brown, R. (2005). Prejudice; Menangani “Prasangka” dari Perspektif Psikologi Sosial. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Eriksen, T., H. (1993). Ethnicity and Nationalism (anthropological perspective) London: Pluto Press.

Harris, P., & Reilly, B. ed. (2000) Demokrasi dan Konflik yang Mengakar: Sejumlah Pilihan untuk Negosiator. (diterjemahkan oleh LP4M). Cetakan pertama, 2000. AMEEPRO.

Isaacs, H. R. (1993). Pemujaan terhadap Kelompok Etnis (Identitas Kelompok dan Perubahan Politik). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lampe, I. (2010). Identitas Etnik Dalam Komunikasi Politik. Jurnal Ilmu Komunikasi UPN Veteran. 8 (3).

Lampe, I (2012). Konstruksi Identitas Politisi Beretnis Bugis dalam Komunikasi Politik di Kota Palu. Dalam buku Komunikasi Budaya dan Jurnalisme Warga. Riau: ALAF.

Liliweri, A, (2005). Prasangka dan Konflik. Jogjakarta: LkiS.

Liliweri, A. (2007). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Jogjakarta: LkiS.

Maunati, Y. (2007). Identitas Dayak (Komodifikasi dan Politik Kebudayaan). Yogyakarta: LkiS.

Mulyana, D. (2006). Metode Penelitian Kualitatif; Paradigma baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nordholt, H. S. ed. (2005). Outward Appearances: Trend, Identitas dan Kepentingan. (diterjemahkan M. Imam Azis). Yogyakarta: LKiS – KITLV.

Nordholt, H. S., VanKlinken, G., & Karang-Hoogenboom, I. ed. (2007) Politik Lokal Indonesia. Jakarta: KITLV – YOI.

Posner, D. N. (2005). Institution and Ethnic Politics in Africa. New York: Cambridge University Press.

Samovar, L. A., Porter, R. E. dan McDaniel, E. R., (2014). Komunikasi Lintas Budaya (Terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika.

Suryadinata, L. A., Nurvida, E., & Ananta, A. (2003). Penduduk Indonesia; Etnisitas dan Agama dalam Era Perubahan Politik. Jakarta: LP3ES

Susiyanto. (2006). Integrasi dan Perubahan Identitas Kelompok Etnik Jawa, Minangkabau, Melayu, Lembak, Rejang dan Serawai dalam Kerangka Etnisitas (Studi di Kota Bengkulu). Pascasarjana Ilmu Sosial Universitas Padjajaran. Disertasi, Universitas Padjajaran

Wade, C. & Tavris, C. (2010) Psychology (10th Edition). Pearson.

Published
2016-06-04
How to Cite
Lampe, I., & Anriani, H. B. (2016). Stereotipe, Prasangka dan Dinamika Antaretnik. Jurnal Penelitian Pers Dan Komunikasi Pembangunan, 20(1), 19-32. https://doi.org/10.46426/jp2kp.v20i1.42